InstitutAgama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas. Tema: Batu Betarup p Menurut Sambas Wirakusumah. Pengertian lingkungan menurut Sambas Wirakusumah adalah seluruh aspek yang terdapat di sekitar manusia. Aspek tersebut meliputi unsur eksternal biologis dengan organisme hidup dan ilmu tentang lingkungan menjadi tempat studi dari lingkungan organisme tersebut. q. Menurut Darsono (1995) Dalam kurun waktu yang cukup lama, pada zaman dahulu di pedalaman Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas telah terjadi fenomena alam dimana muncul sebuah batu di tengah-tengah sungai. Konon batu tersebut adalah jelmaan seorang pria bernama Nek Jage. KehadiranBatu gantung pun tak lepas dari cerita rakyat Sumatera Utara. Keberadaan Batu Gantung, selalu menarik perhatian para turis yang datang ke Danau Toba yang terletak di Parapat. Batu Gantung memiliki asal muasal yang diyakini oleh masyarakat yang dikenal dengan, asal usul Batu Gantung. Pada zaman dahulu, di sebuah desa di tepi Danau Toba A Sistem Bahasa. Bahasa yang sering dipakai oleh suku dayak dalam kehidupan sehari-hari dibagi 2, yaitu : 1. Bahasa Pengantar Seperti pada umumnya bagian negara Indonesia yang merdeka lainnya, masyarakat Kalimantan Tengah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. CeritaRakyat Sambas : "Asal Mula Batu Betarub". 06.43 Hendra Paloh No comments. Pada suatu desa hiduplah sebuah keluarga miskin yang hanya terdiri dari seorang ibu dengan seorang anak. Anaknya sudah lumayan besar sekitar umur 7 tahun. Keluarga ini adalah keluarga yang paling miskin di desa itu. yB638h. Kononnya, pada waktu dahulu ada sebuah gua ajaib di daerah sambas. Gua ini digelar batu belah batu bertangkup dan amat ditakuti oleh ramai penduduk kampung. Pintu gua ini boleh terbuka dan tertutup bila diseru dan sesiapa yang termasuk ke dalam gua itu tidak dapat keluar lagi. Suatu masa dahulu di sebuah kampung yang bernama pemangkat yang berdekatan dengan gua ajaib ini, tinggal Mak Tanjung bersama dua orang anaknya, Melur dan Pekan. Mak Tanjung asyik bersedih kerana baru kehilangan suami dan terpaksa menjaga kedua-dua anaknya dalam keadaan yang miskin dan daif. Pada suatu hari, Mak Tanjung teringin makan telur ikan tembakul. Dia pun pergi ke sungai untuk menangkapnya. Bukan main suka hatinya apabila dapat seekor ikan tembakul. “Wah, besarnya ikan yang mak dapat !” teriak Pekan kegembiraan. ” Ya, ini ikan tembakul namanya. Mak rasa ikan ini ada telurnya. Sudah lama mak teringin untuk memakan telur ikan tembakul ini,” kata Mak Tanjung. Mak Tanjung terus menyiang ikan tembakul itu. Dia pun memberikan kepada Melur untuk dimasak gulai. ” Masaklah gulai ikan dan goreng telur ikan tembakul ini. Mak hendak ke hutan mencari kayu. Jika mak lambat pulang, Melur makanlah dahulu bersama Pekan. Tapi, jangan lupa untuk tinggalkan telur ikan tembakul untuk mak,” pesan Mak Tanjung kepada Melur. Setelah selesai memasak gulai ikan tembakul, Melur menggoreng telur ikan tembakul pula. Dia terus menyimpan sedikit telur ikan itu di dalam bakul untuk ibunya. Melur dan Pekan tunggu hingga tengah hari tetapi ibu mereka tidak pulang juga. Pekan mula menangis kerana lapar. Melur terus menyajikan nasi, telur ikan dan gulai ikan tembakul untuk dimakan bersama Pekan. ” Hmmm..sedap betul telur ikan ini,” kata Pekan sambil menikmati telur ikan goreng. ” Eh Pekan, janganlah asyik makan telur ikan sahaja. Makanlah nasi dan gulai juga,” pesan Melur kepada Pekan. ” Kakak, telur ikan sudah habis. Berilah Pekan lagi. Belum puas rasanya makan telur ikan tembakul ini ,” minta Pekan. ” Eh, telur ikan ini memang tidak banyak. Nah, ambil bahagian kakak ini,” jawab Melur. Pekan terus memakan telur ikan kepunyaan kakaknya itu tanpa berfikir lagi. Enak betul rasa telur ikan tembakul itu! Setelah habis telur ikan dimakannya, Pekan meminta lagi. ” Kak, Pekan hendak lagi telur ikan,” minta Pekan kepada Melur. ” Eh , mana ada lagi ! Pekan makan sahaja nasi dan gulai ikan. Lagipun, telur ikan yang tinggal itu untuk mak. Mak sudah pesan dengan kakak supaya menyimpankan sedikit telur ikan untuknya ,” kata Melur. Namun, Pekan tetap mendesak dan terus menangis. Puas Melur memujuknya tetapi Pekan tetap berdegil. Tiba-tiba, Pekan berlari dan mencapai telur ikan yang disimpan oleh Melur untuk ibunya. ” Hah, rupa-rupanya ada lagi telur ikan! ” teriak Pekan dengan gembiranya. ” Pekan! Jangan makan telur itu! Kakak simpankan untuk mak,” teriak Melur. Malangnya, Pekan tidak mempedulikan teriakan kakaknya, Melur dan terus memakan telur ikan itu sehingga habis. Tidak lama kemudian, Mak Tanjung pun pulang. Melur terus menyajikan makanan untuk ibunya. ” Mana telur ikan tembakul, Melur? ” tanya Mak Tanjung. ” Err… Melur ada simpankan untuk mak, tetapi Pekan telah menghabiskannya. Melur cuba melarangnya tetapi….” ” Jadi, tiada sedikit pun lagi untuk mak? ” tanya Mak Tanjung. Melur tidak menjawab kerana berasa serba salah. Dia sedih melihat ibunya yang begitu hampa kerana tidak dapat makan telur ikan tembakul. ” Mak sebenarnya tersangat ingin memakan telur ikan tembakul itu. Tetapi….” sebak rasanya hati Mak Tanjung kerana terlau sedih dengan perbuatan anaknya, Pekan itu. Mak Tanjung memandang Melur dan Pekan dengan penuh kesedihan lalu berjalan menuju ke hutan. Hatinya bertambah pilu apabila mengenangkan arwah suaminya dan merasakan dirinya tidak dikasihi lagi. Mak Tanjung pasti anak-anaknya tidak menyanyanginya lagi kerana sanggup melukakan hatinya sebegitu rupa. Melur dan Pekan terus mengejar ibu mereka dari belakang. Mereka berteriak sambil menangis memujuk ibu mereka supaya pulang. ” Mak, jangan tinggalkkan Pekan! Pekan minta maaf ! Mak….” jerit Pekan sekuat hatinya. Melur turut menangis dan berteriak, ” Mak, Kasihanilah kami! Mak!” Melur dan Pekan bimbang kalau-kalau ibu mereka merajuk dan akan pergi ke gua batu belah batu bertangkup. Mereka terus berlari untuk mendapatkan Mak Tanjung. Malangnya, Melur dan Pekan sudah terlambat. Mak Tanjung tidak mempedulikan rayuan Melur dan Pekan lalu terus menyeru gua batu belah batu bertangkup agar membuka pintu. Sebaik sahaja Mak Tanjung melangkah masuk, pintu gua ajaib itu pun tertutup. Melur dan Pekan menangis sekuat hati mereka di hadapan gua batu belah batu bertangkup. Namun ibu mereka tidak kelihatan juga. Dan sampai sekarang tempat itu disebut tanjung batu yang terletak di Kecamatan Pemangkat. Sumber Filed under All About Everything Pada suatu desa hiduplah sebuah keluarga miskin yang hanya terdiri dari seorang ibu dengan seorang anak. Anaknya sudah lumayan besar sekitar umur 7 tahun. Keluarga ini adalah keluarga yang paling miskin di desa itu. Orang selalu tidak menganggap keberadaan mereka dan mengucilkan mereka. Ibunya hanya bekerja sebagai pencari kayu bakar untuk menghidupi keluarganya. Suatu hari orang yang paling kaya di kampung itumengadakan selamatan yang kita tahu kalau orang kaya mengadakan selamatan, pasti seluruh warga kampung diundang. Setelah mendengar cerita itu, si anak merasa ingin sekali pergi ke acara selamatan itu karena seumur hidupnya dia tidak pernah pergi ke acara yang seperti itu. ”Aku tidak pernah pergi ke acara yang seperti itu” kata anak itu. Lalu anak itu bertanya kepada ibunya ”Mak, apakah kita diundang oleh orang di acara itu?” Lalu jawab ibunya ”Tak tahu ya, coba kamu bertanya ke orang di situ” Lalu jawab si anak lagi ”Mana ada mak orang yang mau memberitahu kita. Aku kan bau” ”Oh, kalau begitu biar mak saja yang bertanya” kata ibunya. Pergilah ibunya itu. Kemudian bertanyalah ibunya ke tetangga itu ”Eh, apakah aku diundang di acara itu?” ”Tak tahu ya. Sepertinya tidak ada. Aku Cuma mengundang orang yang namanya di sini” kata tetangga tadi itu. Rasa kesal ibunya menyeruak. Kemudian sadarlah dia bahwa mungkin dia adalah orang paling miskin di kampungnya. Kemudian diberitahukannya kepada si anak bahwa keluarganya tidak diundang oleh orang yang mengadakan acara itu. Akan tetapi si anak ingin sekali seperti orang lain yang dapat makan enak. Kemudian dia nekad bahwa dia harus pergi ke acara itu. ”Mak…!” kata anak itu. ”Aku harus pergi ke acara itu apapun yang terjadi” kata anak itu lagi. Tibalah hari acara tersebut. Orang yang kaya tadi membuat tarub untuk acaranya tersebut. Tarub itu adalah tempat orang terhormat berkumpul seperti kiai, kepala kampung, dan sebagainya. Pakoknya orang kaya dan terhormat yang datang pada sebuah acara yang memang sengaja dibuat oleh orang. Begitu acara dimulai, berdatangan orang sekampung. Melihat orang sekampung pergi ke acara itu, si anak pun ikut pergi juga. Berdandanlah si anak. Ketika sampai di tarub, si anak ditahan oleh si penjaga tarub. ”Ada apa kamu ke sini? Kamu itu tidak diundang” kata penjaga tarub tadi. Kemudian penjaga tarub mendorong tubuh anak tersebut hingga jatuh. Merasa diperlakukan seperti itu, pulanglah si anak ke rumahnya. Setibanya di rumah, dia pun langsung memberitahu kepada ibunya apa yang di alaminya di acara tadi. Kemudian ibunya menyuruh dia untuk pergi kembali, pergilah si anak untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, anak tersebut tetap saja diusir oleh penjaga tarub tersebut. Penjaga tarub tersebut mendorong anak tersebut lagi. Kemudian si anak kembali ke rumah dan memberitahukan kejadian tersebut kepada ibunya. Sesampainya di rumah, ibu kembali menyuruh anaknya untuk mandi sampai bersih ”Coba kamu pergi lagi dan sebelum kamu pergi kamu harus mandi sampai bersih. Mungkin saja badanmu masih bau sehingga orang tidak mau menerimamu hadir di acara tersebut”. Kemudian si anak tanpa berpikir panjang menuruti perintah ibunya. Setelah mandi si anak langsung pergi ke acara tersebut untuk ketiga kalinya. Akan tetapi, anak tersebut masih juga didorong oleh si penjaga tarub tersebut. Dengan hati yang sedih si anak kembali lagi ke rumahnya dan memberitahukan lagi apa yang dialaminya kepada si ibu. Mendengar cerita anaknya, hati si ibu pun menjadi geram terhadap perlakuan si penjaga tarub terhadap anaknya, maka timbullah niat jahat si ibu. ”Oh, kalau begitu caranya orang dengan kami, kami juga bisa berbuat jahat dengan orang” kata si ibu. ”Kalau begitu, kamu dandani kucing kita ini dengan memakaikan baju kepadanya sehingga menjadi kucing yang benar-benar bagus. Kemudian kita bawa kucing tersebut ke acara orang kaya itu” kata si ibu. Kemudian si anak dengan si ibu pergi ke acara tersebut sambil membawa kucing yang sudah didandani tadi. Sampai di tarub, kucing yang sudah didandan layaknya manusia, dipakaikan baju, dipolesi bedak dan lipstik tebal-tebal dilemparkan oleh mereka di depan orang ramai. Melihat kucing tersebut, orang yang ada di tarub tersebut tertawa sekeras-kerasnya. Kucing itu pun berlari-lari kebingungan tidak terarah. Orang mengira kalau kucing tersebut sedang menari dan semakin besar ketawa orang yang ada di situ. Tidak lama kemudian, tiba-tiba petir pun menyambar dan menyambar orang yang ada di tarub tersebut. Kemudian orang yang terkena sambaran petir itu menjadi batu beserta tarubnya. Akan tetapi, si anak dengan si ibu tadi bersembunyi di batang bambu. Sampai sekarang, jika petir menyambar gesekkan saja batang bambu agar tidak terkena smbaran petir itu. Begitulah cerita mengapa disebut batu betarub yang sekarang batu tersebut terdapat di kampung Daup, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas. Sumber Filed under All About Everything Uploaded byIrna Jiwa 0% found this document useful 0 votes47 views1 pageDescriptioncerita rakyatCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes47 views1 pageBatu BetarupUploaded byIrna Jiwa Descriptioncerita rakyatFull descriptionJump to Page You are on page 1of 1Search inside document Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel the full document with a free trial!Continue Reading with Trial - Cerita Rakyat Sambas adalah cerita legenda daerah yang berkembang secara turun-temurun di Benua Sambas bekas wilayah Kesultanan Sambas yang masih di pelihara oleh masyarakat Sambas dan kadang dipercayai kebenarannya sebagai suatu peristiwa nyata yang pernah terjadi, namun tidak sedikit orang yang menganggapnya hanya mitos dan fiktif belaka. Cerita rakyat yang berkembang di Sambas memiliki ciri khas tersendiri berupa legenda asal usul dan nama tempat, danau, gunung, atau situs dan benda bersejarah lainnya. Keberadaan cerita rakyat Sambas ini tentunya ikut memperkaya khasanah budaya tradisional indonesia. Kali ini saya akan membantu Anda yang mencari referensi seputar cerita rakyat Sambas yang jarang terekspos di media online. Cerita Rakyat Sambas Asal Usul Danau Sebedang ini saya tulis kembali dengan sedikit perbaikan dalam pemilihan kata tanpa mengubah alur ceritanya. Sumber referensi dari buku Lawang Kuari Antologi Cerita Rakyat Kalimantan Barat, oleh Paramita peserta bengkel sastra, cetakan Kedua September 2015, diterbitkan oleh Balai Bahasa Kalimantan Barat. Hari itu cuaca sangat cerah, suasana di Keraton Sambas yang tenang dan damai, dan dikejauhan terdengar suara burung yang berkicau indah di sekitaran keraton ikut menambah suasana yang sangat nyaman. Pepohonan yang rimbun, tinggi dan besar seakan ikut menambah keindahan halaman keraton. Rerumputan hijau semakin menambah indahnya pemandangan di sekitaran Keraton Sambas. Tiba-tiba ada sesosok pria keluar dari arah keraton, semakin lama semakin jelas, ternyata Sang Sultan yang bernama Syafiudin mempercepat langkah kakinya menuju halaman istana. Sang Sultan benar-benar menikmati keindahan dan kenyamanan di sekitarnya. Sehingga terlintas dibenaknya mencari suatu tempat di luar istana sebagai tempat peristirahatan yang tenang dan damai. Sang Sultan membayangkan sebuah tempat yang dikelilingi sungai, pepohonan yang rimbun dan pegunungan yang gagah berdiri di dekat sungai, serta kicauan burung yang indah. Sang Sultan pun langsung menyampaikan niatnya dengan memanggil para menteri untuk mencari lokasi yang cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan Sang Sultan. Sang Sultan dengan semangat menceritakan apa yang diinginkannya kepada para wajir, lalu sang wajir pun diperintahkan oleh Sultan untuk mencari lokasi yang cocok dan sesuai dengan keinginan Sultan. "Hei kamu." kata Sultan kepada wajir itu. "Ada apa gerangan memanggil hamba, Tuanku," sahut wajir dengan nada lembut. Ia berbicara sambil menunduk karena tidak berani menatap langsung wajah Sang Sultan. "Maukah kamu menolong saya?" tanya Sang Sultan. "Kalau hamba bisa, hamba akan menolong Tuan. Pertolongan seperti apa yang dapat hamba berikan kepada Tuan?" sahut sang wajir dengan penuh rasa penasaran. "Saya berniat ingin membuat sebuah tempat peristirahatan yang tenang, damai dan indah." ujar Sang Sultan. "Lalu suasana yang bagaimana yang Tuan inginkan?" wajir itupun bertanya kembali kepada Sang Sultan. "Saya ingin tempat itu bersih, ada air yang mengalir, ada pohon, ada jalan dan ada gunung di dekat air yang mengalir itu, lalu ketika saya masuk ke tempat itu saya ingin mendengarkan kicauan burung yang begitu merdu dan indah ketika didengar." sahut Sang Sultan penuh semangat memperjelas keinginannya. "Baiklah hamba akan mengumpulkan orang-orang untuk membuat sebuah tempat peristirahatan seperti yang Tuan ingikan," kata wajir yang menyanggupi permintaan Sultan. Jelas sudah apa yang di dengar dari perkataan Sultan tentang seperti apa tempat yang diinginkan oleh Sang Sultan. Bergegaslah wajir tersebut mengumpulkan orang-orang kepercayaannya dengan latar belakang agama yang berbeda. Lalu orang-orang yang telah dikumpulkan wajir tersebut, di bagi menjadi beberapa kelompok untuk berpencar mencari lokasi yang cocok untuk dijadikan tempat peristirahatn wisata Sang Sultan. Namun mereka tidak ada satupun menemukan tempat yang seperti Sultan inginkan. "Ampun Tuanku, sangat sulit bagi kami untuk menemukan tempat yang sesuai untuk Tuan." sahut kelompok satu. "Begitu banyak tempat kalian datangi, tidak ada satu pun yang cocok untuk saya?" tanya Sultan dengan nada yang kasar. "Maafkan kami Tuanku." sahut kelompok dua. Suasana kerajaan pun hening seketika, Sang Sultan dan para wajirnya terdiam membisu beberapa menit. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat sesosok yang datang menghampiri mereka. Semakin dekat orang tersebut semakin jelas rupa wajah orang tersebut. Ternyata orang tersebut ingin menghadap Sultan. Orang itu adalah Kepala Desa Sebedang, dia ingin menawarkan suatu tempat yang ada di Desa Sebedang dan menurutnya tempat tersebut sangat cocok untuk Sultan beristirahat atau relaksasi. "Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Sultan kepada orang asing tersebut. "Ampun Tuanku! Hamba hanya ingin menawarkan kepada Tuanku, bahwa ada sebuah tempat yang bagus di daerah hamba dan menurut hamba sangat cocok dan sesuai dengan keinginan Tuan."jawab orang asing dengan penuh percaya diri. "Apakah kamu yakin dengan tempat yang kamu ucapkan tadi?" tanya Sultan. "Ya Tuanku. Di tempat itu terdapat tujuh bukit. Dengan melintasi jalan 100 meter saja kita membuang bukit itu, dan tempat tersebut bisa menjadi danau buattan." ujar orang asing sambil menjelaskan tentang potensi wisatanya. Setelah bercerita panjang lebar tentang tempat yang sesuai untuk Sultan, kepala desa itupun pamit untuk pulang ke rumahnya dan menunggu kedatangan rombongan Sultan untuk datang ke Desa Sebedang. Keesokan harinya, Sang Sultan pun berangkat bersama dengan para wajir dari ibukota Kesultanan Sambas. Sang Sultan beserta rombongan menunggangi kuda untuk sampai ke Desa Sepuk Tanjung. Di Sepuk Tanjung, Sang Sultan dan rombongannya pergi ke Pagong lewat Tanjung Putat, tidak melewati Sebedang. Pada masa itu, daerah Sebedang tidak ada jalan raya, hanya setapak jalan tanah bertabur batu. Dari Tanjung Putat, perjalanan Sang Sultan dan rombongan pun sampai ke daerah Pagong, di sana Sang Sultan bertemu Kepala Desa Sebedang. Sang Sultan pun bertanya tentang tempat yang telah direkomendasi oleh kepala desa tersebut. "Di mana tempat yang kamu maksud?" tanya Sultan. "Disinilah bukit-bukit yang hamba ceritakan kepada Tuan tempo hari. Jika dari bukit ini hingga ke bukit ujung sana, kita tutup sehingga di sini bisa kita buat sebuah danau buatan." jawab kepala desa. Setelah mendengar penjelasan ringan dari kepala desa, Sang Sultan pun kembali bertanya kepada kepala desa. "Hei... Kepala Desa! Di mana pagong yang kamu katakan kepada Saya?" tanya Sultan. "Pagong itu berada di jalan yang Sultan jalani sejauh 100 meter dari tempat Tuan berangkat." jawab Kepala Desa. Sang Sultan memberi perintah kepada wajirnya untuk sesegera mungkin membuat danau seperti yang Sultan inginkan. Setelah mendengar perintah Sultan, para wajir itupun melaksanakan tugasnya dengan baik. Waktu ke waktu, hari ke hari, para wajir membuat tempat untuk Sultan. Akhirnya jadilah danau buatan yang indah dan sesuai dengan apa yang Sultan inginkan. Hari ke hari dilewati oleh Sultan di danau itu. Tiba-tiba turunlah hujan begitu deras dan akhirnya pagong itu pecah karena di guyur hujan deras. Setelah hujan reda, Sultan memerintahkan orang yang beda dari orang yang membuat pagong sebelumnya untuk memperbaiki pagong danau tersebut. Setelah diperbaiki tiba-tiba tahun kedua pembuatan pagong di guyur hujan lagi. Hancurlah pagong itu di tahun yang kedua dikarenakan di pagong itu kononnya ada penghuni yang tidak kasat mata dan tidak bisa diusir begitu saja dari tempat itu. Akhirnya Sultan pun menyerah dan memanggil Kepala Desa untuk perbaikan pagong yang telah dibuat wajirnya. "Ampun Tuanku... penghuni danau ini sangatlah kuat sehingga sulit untuk dibuang!" kata salah satu wajir itu. "Lalu bagaimana dengan pagong danau ku ini?" tanya Sultan. "Sekali lagi ampun Tuanku, kami tidak sanggup menghadapi makhluk-makhluk penghuni pagong ini." jelas wajir. Datanglah kepala desa dan langsung menghadap Sultan. Kepala Desa itupun memberikan usul tentang perbaikan pagong danau tersebut. "Ada apa Tuanku? Apa maksud dari Tuanku memanggil hamba?" tanya kepala desa. "Kenapa setiap pagong ini diperbaiki selalu ada kerusakan?" tanya Sultan dengan penuh rasa kesal. "Begini Tuanku, untuk membuat pagong ini lebih aman dibuatlah dengan guni dan daerah bawah di buat besar dan di atas di buat kecil." jelas kepala desa. "Apakah itu bisa membuat tahan pagong danau ku ini?" tanya sultan kurang yakin. "Hamba yakin pasti bisa." jawab kepala desa penuh keyakinan. Sang Sultan pun memerintahkan wajirnya untuk membuat apa yang disarankan oleh kepala desa tadi. Tak berapa lama pagong danau itupun berhasil dikerjakan oleh para wajir. Alhasil danau tersebut di beri nama Danau Sebedang, dikarenakan danau tersebut berada di Desa Sebedang. Dewasa ini, lokasi tersebut masih bisa kita jumpai dan telah menjadi salah satu objek wisata andalan Kabupaten Sambas, khususnya Kecamatan Sebawi. Demikianlah CERITA RAKYAT SAMBAS Asal Usul Danau Sebedang yang bisa saya bagikan pada postingan kali ini. Semoga artikel cerita kali ini menjadi sajian menarik dan bermanfaat untuk anda. Untuk Anda yang ingin mengutip artikel ini / repost di blog Anda maka Anda berkewajiban untuk mencantumkan link aktif sumbernya. Cerita Rakyat Sambas "Asal Mula Batu Betarub" Pada suatu desa hiduplah sebuah keluarga miskin yang hanya terdiri dari seorang ibu dengan seorang anak. Anaknya sudah lumayan besar sekitar umur 7 tahun. Keluarga ini adalah keluarga yang paling miskin di desa itu. Orang selalu tidak menganggap keberadaan mereka dan mengucilkan mereka. Ibunya hanya bekerja sebagai pencari kayu bakar untuk menghidupi keluarganya. Suatu hari orang yang paling kaya di kampung itu mengadakan selamatan yang kita tahu kalau orang kaya mengadakan selamatan, pasti seluruh warga kampung diundang. Setelah mendengar cerita itu, si anak merasa ingin sekali pergi ke acara selamatan itu karena seumur hidupnya dia tidak pernah pergi ke acara yang seperti itu. ”Aku tidak pernah pergi ke acara yang seperti itu” kata anak itu. Lalu anak itu bertanya kepada ibunya ”Mak, apakah kita diundang oleh orang di acara itu?” Lalu jawab ibunya ”Tak tahu ya, coba kamu bertanya ke orang di situ” Lalu jawab si anak lagi ”Mana ada mak orang yang mau memberitahu kita. Aku kan bau” ”Oh, kalau begitu biar mak saja yang bertanya” kata ibunya itu. Kemudian bertanyalah ibunya ke tetangga itu ”Eh, apakah aku diundang di acara itu?” ”Tak tahu ya. Sepertinya tidak ada. Aku Cuma mengundang orang yang namanya di sini” kata tetangga tadi itu. Rasa kesal ibunya menyeruak. Kemudian sadarlah dia bahwa mungkin dia adalah orang paling miskin di kampungnya. Kemudian diberitahukannya kepada si anak bahwa keluarganya tidak diundang oleh orang yang mengadakan acara itu. Akan tetapi si anak ingin sekali seperti orang lain yang dapat makan enak. Kemudian dia nekad bahwa dia harus pergi ke acara itu. ”Mak...!” kata anak itu. ”Aku harus pergi ke acara itu apapun yang terjadi” kata anak itu lagi. Tibalah hari acara tersebut. Orang yang kaya tadi membuat tarub untuk acaranya tersebut. Tarub itu adalah tempat orang terhormat berkumpul seperti kiai, kepala kampung, dan sebagainya. Pakoknya orang kaya dan terhormat yang datang pada sebuah acara yang memang sengaja dibuat oleh orang. Begitu acara dimulai, berdatangan orang sekampung. Melihat orang sekampung pergi ke acara itu, si anak pun ikut pergi juga. Berdandanlah si anak. Ketika sampai di tarub, si anak ditahan oleh si penjaga tarub. ”Ada apa kamu ke sini? Kamu itu tidak diundang” kata penjaga tarub tadi. Kemudian penjaga tarub mendorong tubuh anak tersebut hingga jatuh. Merasa diperlakukan seperti itu, pulanglah si anak ke rumahnya. Setibanya di rumah, dia pun langsung memberitahu kepada ibunya apa yang di alaminya di acara tadi. Kemudian ibunya menyuruh dia untuk pergi kembali, pergilah si anak untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, anak tersebut tetap saja diusir oleh penjaga tarub tersebut. Penjaga tarub tersebut mendorong anak tersebut lagi. Kemudian si anak kembali ke rumah dan memberitahukan kejadian tersebut kepada ibunya. Sesampainya di rumah, ibu kembali menyuruh anaknya untuk mandi sampai bersih ”Coba kamu pergi lagi dan sebelum kamu pergi kamu harus mandi sampai bersih. Mungkin saja badanmu masih bau sehingga orang tidak mau menerimamu hadir di acara tersebut” Kemudian si anak tanpa berpikir panjang menuruti perintah ibunya. Setelah mandi si anak langsung pergi ke acara tersebut untuk ketiga kalinya. Akan tetapi, anak tersebut masih juga didorong oleh si penjaga tarub tersebut. Dengan hati yang sedih si anak kembali lagi ke rumahnya dan memberitahukan lagi apa yang dialaminya kepada si ibu. Mendengar cerita anaknya, hati si ibu pun menjadi geram terhadap perlakuan si penjaga tarub terhadap anaknya, maka timbullah niat jahat si ibu. ”Oh, kalau begitu caranya orang dengan kami, kami juga bisa berbuat jahat dengan orang” kata si ibu.”Kalau begitu, kamu dandani kucing kita ini dengan memakaikan baju kepadanya sehingga menjadi kucing yang benar-benar bagus. Kemudian kita bawa kucing tersebut ke acara orang kaya itu” kata si ibu. Kemudian si anak dengan si ibu pergi ke acara tersebut sambil membawa kucing yang sudah didandani tadi. Sampai di tarub, kucing yang sudah didandan layaknya manusia, dipakaikan baju, dipolesi bedak dan lipstik tebal-tebal dilemparkan oleh mereka di depan orang ramai. Melihat kucing tersebut, orang yang ada di tarub tersebut tertawa sekeras-kerasnya. Kucing itu pun berlari-lari kebingungan tidak terarah. Orang mengira kalau kucing tersebut sedang menari dan semakin besar ketawa orang yang ada di situ. Tidak lama kemudian, tiba-tiba petir pun menyambar dan menyambar orang yang ada di tarub tersebut. Kemudian orang yang terkena sambaran petir itu menjadi batu beserta tarubnya. Akan tetapi, si anak dengan si ibu tadi bersembunyi di batang bambu. Sampai sekarang, jika petir menyambar gesekkan saja batang bambu agar tidak terkena smbaran petir itu. Begitulah cerita mengapa disebut batu betarub yang sekarang batu tersebut terdapat di kampung Daup, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas.

cerita rakyat sambas batu betarup